Pengertian , Cara Mempertahankan, Teori Elitisme

Posted on

Pengertian , Cara Mempertahankan, Teori Elitisme – Apa Itu Elitisme….? Dalam masyarakat yang kompleks ada kecenderungan elit yang banyak ragamnya. Di setiap cabang-cabang kehidupan yang penting (ekonomi, sosial, politik), akan muncul sekelompok orang yang memiliki kekuasaan yang lebih besar daripada yang lain. Orang atau sekelompok orang yang memiliki kekuasaan dalam bidang ekonomi, dinyatakan sebagai elit di bidang ekonomi.

Orang atau sekelompok orang yang memiliki kekuasaan dalam bidang politik dinyatakan sebagai elit di bidang politik. Akan tetapi tidak tertutup kemungkinan adanya orang atau sekelompok orang yang memiliki kekuasaan dalam lebih dari satu bidang kehidupan. Dimungkinkan juga yang bersangkutan selain menjadi elit di bidang ekonomi menjadi elit di bidang politik. Berikut adalah penjelasan seputar pengertian Elitisme.

Definisi Elitisme

Elitisme adalah sebuah konsep yang berasal dari kata “elite” yang berarti “kelompok kecil orang-orang yang mempunyai derajat tinggi, orang-orang terhormat; orang-orang terbaik; sesuatu yang dianggap paling baik atau mewah
(tentang sesuatu benda atau barang)”.

Elitisme adalah sebuah paham atau ideologi atau “isme” tentang kalangan elite. Dengan kata lain, maksud elistisme adalah suatu pandangan yang melihat bahwa sesuatu itu hanyalah hak dan otoritas orang-orang elite saja, bukan orang-orang kecil dan terpinggirkan. Dalam dunia pendidikan Elitisme adalah suatu bentuk pendidikan yang hanya diperuntukkan bagi kalangan terbatas yaitu kalangan “elite” saja.
Secara umum Elitisme adalah keyakinan atau sikap yang beberapa individu, yang merupakan-elit kelompok memilih orang dengan keturunan tertentu, kualitas intrinsik atau nilai, kecerdasan yang lebih tinggi, kekayaan, pelatihan atau pengalaman khusus, atau khusus lainnya atribut-adalah mereka yang mempengaruhi atau otoritas lebih besar daripada orang lain, yang pandangan mengenai suatu hal yang harus diambil paling serius atau membawa paling berat, yang pandangan atau tindakan yang paling mungkin untuk menjadi konstruktif bagi masyarakat secara keseluruhan, atau yang luar biasa keterampilan, kemampuan, atau kebijaksanaan membuat mereka terutama cocok untuk memerintah.
Teori Elitisme
Teori elitisme merupakan salah satu teori yang menjelaskan tentang bagaimana pemerintahan dalam suatu negara berjalan. Teori elit menekankan bahwa negara dapat berjalan maksimal jika terdapat sekumpulan elit yang mempimpin dan membuat keputusan. Masyarakat pada dasarnya memilki banyak keinginan yang ingin dicapai di negaranya, akan tetapi perlu adanya wadah yang menampung segala macam aspirasi mereka sehingga dibutuhkan adanya sekelompok elit. Sehingga pemerintahan di dalam suatu negara memiliki keteraturan untuk menciptakan aturan karena telah memilki perwakilan yakni sekelompok elit tersebut. Vilfredo Pareto menyatakan bahwa setiap individu memiliki keunggulan dalam bidang tertentu dan kumpulan individu yang ada di dalam kelompok elit tentu memiliki kapabilitas masing-masing terhadap kemampuan yang dimilikinya. Terdapat dua jenis elit yakni pertama governing elite yang terdiri dari pemimpin-pemimpin yang secara langsung maupun tidak langsung ikut memerintah masyarakat. Dan kedua ialah non-governmental elite yang terdiri dari bukan kelompok elit di dalam suatu negara sehingga ia tidak dapat memerintah masyarakat secara langsung.
Terdapat tiga macam teori elit yaitu pertama classical elite theory atau teori elit klasik, dimana dalam teori ini menjelaskan bahwa power atau kekuatan terletak pada posisi otoritas yang memegang kunci dalam institusi politik dan ekonomi. Kaum elitis klasik juga menyatakan bahwa menurut elitis tersebut dalam teori Marxis –yang pada saat tahun 1890an didominasi oleh partai-partai sosialis Eropa, mengkritik bahwa selalu adanya batasan pada masyarakat dunia. Dan pandangannya pula terhadap liberal opyimism, mereka berpendapat bahwa transisi ke masyarakat industri dengan sistem demokrasi perwakilan tidak bisa secara mendasar mengubah stratifikasi masyarakat menjadi elit penguasa dan massa. Mobilitas sosial dan sirkulasi elit dapat meningkat serta kelompok yang berkuasa dapat meningkat pula, dan kelompok yang berkuasa mungkin menjadi lebih heterogen namun pemerintah harus tetap oligarkis.
Terdapat pula perbedaan psikologis yang membedakan antara golongan elit dengan non-elit dalam teori klasik ini yakni bahwa golongan elit harus memiliki kapabilitas sumber daya personal seperti kecerdasan dan keterampilan serta kepentingan dalam pemerintahan. Pada golongan elit juga diasumsikan memiliki keinginan dan usaha yang kuat untuk membentuk pemerintahan yang stabil. Sedangkan golongan non-elit adalah kaum inkompeten dan tidak memiliki kapabilitas bahkan untuk memimpin diri mereka sendiri. Teori ini sendiri dikembangkan oleh tiga pemikir yaitu Gaetano Mosca, Vilfredo Pareto, dan Robert Michels.
Teori kedua ialah democratic elitism, dimana memiliki dua asumsi utama yakni kompatibilitas antara birokrat dan demokrasi serta penekanan terhadap kompetisi elit. Teori ini juga sering disebut berusaha untuk menggabungkan antara model pluralis dan elitis. Para elitis democratic elitism mencoba mencari gambaran realistis dari bagaimana sistem perwakilan demokratis jika dikaitkan dengan elitis. Max Weber menyatakan bahwa sistem perwakilan liberal dan teori elit dapat disesuaikan tetapi hanya parlemen yang kuat dan yang dapat bekerja maksimal yang hanya dapat menerapkan model pemerintahan seperti itu.
Dan yang terakhir ialah radical elitism atau elitisme radikal. Kaum elitis radikal mencoba menunjukkan bahwa demokrasi liberal adalah sebuah utopis yang tidak akan pernah tercapai dan tidak mungkin direalisasikan. Kaum elitis radikal menyatakan bahwa jika masyarakat diberikan kontrol sepenuhnya atas pemerintahan maka pemerintahan akan berjalan tidak efektif. Hal ini dikarenakan masyarakat pada umumnya memiliki keinginan yang berbeda-beda dan cenderung egois, sehingga jika pemerintahan dipegang sepenuhnya oleh masyarakat, nantinya akan timbul chaos atau kekacauan. Oleh karena itu, perlunya seseorang yang menjadi perwakilan untuk menjadi wadah aspirasi masyarakat agar kepentingan dan keinginan masyarakat dapat tetap terpenuhi.
Pada dasaranya, teori elit  ingin menciptakan suatu aturan atau keputusan dengan lebih efektif mengingat tidak terlalu banyak orang-orang yang ikut terlibat di dalam pengambilan keputusan. Sehingga hasil yang dicapai pun dapat memuaskan masyarakat. Para elitis ini pun sebenarnya hanya sebagai kepanjangan tangan dari masyarakat untuk mewakili setiap aspirasi rakyatnya ke negara. Namun terkadang para elitis ini cenderung mementingkan kepentingan kelompoknya sehingga keputusan yang dicapai kurang maksimal dan tidak mewakili kebutuhan masyarakat sebagaimana seharusnya.
Cara Elit Mempertahankan Kekuasaan
  1. Intimidasi Yaitu manipulasi nilai-nilai dan norma yang berlaku dalam elit sehingga setiap orang akan selalu cenderung untuk menyesuaikan diri.
  2. Ekslusivisme Dengan cara menutupi lingkungan elit dari pengetahuan umum. Kesalahan-kesalahan elit dirahasiakan sehingga masyarakat akan tidak pernah tahu dan dengan demikian elit akan tetap mendapat dukungan dari masyarakat.
  3. Formula Politik atau Resep-Resep Politik Mengekploitir nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat untuk memperoleh dukungan.
  4. Dengan Cara Sirkulasi Umumnya ada sekelompok orang di bawah lapisan elit yang menggunakan kesempatan untuk merebut kekuasaan elit kemungkinan hal ini dapat diperkecil dengan cara menarik orang-orang tertentu di bawah elit untuk masuk ke dalam elit sehingga terjadi sirkulasi yang dapat menghambat perebutan kekuasaan
  5. Dukungan Angkatan Bersenjata Kemampuan kekuatan militer yang solid dan loyal terhadap elit menjadikan elit dapat mempertahankan kekusaan dalam sebuah system politik.
Baca :  Apresiasi terhadap Seni Rupa Terapan Nusantara
Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *