Pengertian, Jenis Jenis, Contoh KATA KONJUNGSI

Posted on

Kata Konjungsi – Secara umum, kata konjungsi sering diartikan sebagai kata hubung atau penghubung. Konjungsi sering kita gunakan dalam keseharian kita, baik dalam percakapan santai maupun serius. Meskipun terlihat sepele, kata hubung memiliki peran dan fungsi yang sangat besar dalam tata bahasa Indonesia.

Lalu, apakah anda tahu definisi atau makna kata hubung sebenarnya? Dan bagaimana perannya dalam keseharian kita? Sebelumnya, mari kita bahas definisi dari kata hubung terlebih dahulu.

Pengertian Konjungsi

Dalam KBBI (Andas Besar Bahasa Indonesia), konjungsi atau kata hubung didefinisikan sebagai kata atau ungkapan penghubung antar kata, antar frasa, antar kalusa, dan antar kalimat. Maka dapat kita simpulkan bahwa konjungsi adalah penghubung antar kata sampai antar kalimat.

Sebelum pembahasan kita lebih jauh lagi mengenai kata hubung, mari kita pahami terlebih dahulu makna dari kata, klausa, dan kalimat.

1. Kata

Menurut KBBI, kata adalah unsur bahasa yang diucapkan atau dituliskan yang merupakan perwujudan kesatuan perasaan dan pikiran yang dapat digunakan dalam berbahasa. Dalam sebuah kalimat, kata merupakan salah satu unsur terkecil.

Kata terbentuk dari beberapa huruf yang terangkai untuk menciptakan makna tertentu. Contoh dari kata sederhana yang sering kita gunakan adalah tidur, bekerja, belajar, dan masih banyak lagi.

2. Klausa

Terkadang kita sulit untuk membedakan klausa dan kalimat. Namun, bila kita telah memahami makna dan fungsinya, kita dapat membedakan keduanya dengan mudah. Klausa merupakan satuan gramatikal yang berupa kelompok dari kata, terdiri atas sekurang-kurangnya subjek dan predikat yang akan berpotensi menjadi kalimat. Klausa yangs sering kita temui dalam kehidupan sehari – hari contohnya Nenek sedang makan.

Dalam klausa tersebut terdiri dari satu subyek (nenek) dan satu predikat atau kata kerja (sedang makan). Dalam susunannya, klausa lebih pendek atau singkat dibandingkan kalimat. Dalam sebuah klausa hanya terdiri dari subyek dan predikat.

3. Kalimat

Berdasarkan KBBI, kalimat adalah satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi final dan secara aktual ataupun potensial terdiri atas klausa. Klausal lebih sederhana dan tidak sekomplek kalimat.

Kalimat terdiri dari subyek, predikat, obyek, dan keterangan (baik keterangan tempat, waktu dan sebagainya). Tidak menutup kemungkinan pula bila terdapat sebuah klausa dalam sebuah kalimat.

Contoh kalimat:

Kemarin ibu membeli sayuran dan buah – buahan di pasar.
Udin membaca buku cerita bersama Ujang di perpustakaan.

Setelah memahami makna dari kata, klausa, dan kalimat, kita dapat lebih memahami definisi dan jenis -jenis konjungsi. Berikut pembahasan mengenai jenis-jenis konjungsi.

Jenis – Jenis Konjungsi

Konjungsi memiliki jenis yang bervariasi. Konjungsi dapat dikelompokkan menjadi lima, yakni konjungsi koordinatif, konjungsi korelatif, konjungsi subordinatif, konjungsi antar kalimat, dan yang terakhir adalah konjungsi antar paragraph. Dalam kesempatan ini, kita akan membahas kelima konjungsi tersebut secara rinci dan jelas.

1. Konjungsi Koordinatif

Berdasarkan KBBI, konjungsi koordinatif adalah konjungsi yang menggabungkan kata atau klausa yang berstatus sama, misalnya dan, atau, tetapi. Dalam konjungsi koordinatif, hanya menggunakan satu kata untuk menggabungkan dua kalimat yang memiliki status sama atau derajat yang setara. Konjungsi ini merupakan konjungsi yang paling sederhana dan tidak sekomplek konjungsi lainnya.

Contoh : dan, atau, tetapi, sedangkan, kemudian, namun, melainkan, dan masih banyak lagi.

Baca :  Pengertian,Fungsi,Jenis,Bagian,Penemu Kompas

Dalam ilmu tata bahasa, konjungsi koordinatif dapat dibagi kedalam 3 kelompok berdasarkan sifat hubungannya.

a. Konjungsi Koordinatif Penambahan

Contoh kalimat :

Anne dan Aldric sedang belajar Matematika bersama.
Vina beserta teman sekelasnya akan mengunjungi museum di akhir pecan.
Dalam konjungsi koordinatif penambahan, konjungsi yang digunakan adalah serta, dan, beserta.

b. Konjungsi Koordinatif Perlawanan

Sesuai dengan namanya, konjungsi koordinatif perlawanan memiliki arti kata hubung yang menggabungkan dua buah kata, klausa maupun kalimat yang sederajat namun mempertentangkan suatu hal yang menjadi topik dalam klausa atau kalimat tersebut. Kata hubung yang sering digunakan adalah tetapi, sedangkan, melainkan.

Contoh penggunaan konjungsi koordinatif perlawanan:

Para koruptor seharusnya tidak hanya menjalani hukuman penjara tetapi juga mengganti uang yang dikorupsinya sebanyak 5 kali lipat.
Hilda sebenarnya anak yang cerdas tetapi ia malas belajar.

c. Konjungsi Korelatif Pilihan

Konjungsi korelatif pilihan adalah konjungsi yang berfungsi untuk menggabungkan dua atau lebih klausa atau kalimat yang bertujuan untuk menghadirkan pilihan atau memilih. Kata konjungsi yang sering digunakan diantaranya ; atau, maupun, ataupun.

Contoh kalimat:

Deandra ataupun Kevin mampu untuk menyelesaikan proyek Biologi dengan baik.
Baik hari biasa maupun hari libur, Tasya tidak pernah belajar.

2. Konjungsi Subordinatif

Berdasarkan KBBI, definisi konjungsi subordinatif adalah konjungsi yang menghubungkan anak kalimat dan induk kalimat atau menghubungkan bagian dari kalimat subordinatif. Berbeda dengan konjungsi koordinatif, kedua klausa dalam konjungsi subordinatif tidaklah setara.

Klausa yang memiliki derajat lebih tinggi disebut induk kalimat sedangkan klausa lainnya yang derajatnya lebih rendah disebut anak kalimat.

Konjungsi subordinatif dibagi menjadi beberapa kelompok , diantaranya:

a. Konjungsi Subordinatif Waktu

Konjungsi waktu berfungsi untuk menghubungkan dua klausa untuk menjelaskan keterangan waktunya. Berdasarkan waktu terjadinya, konjungsi waktu dapat diklasifikasi menjadi:

i. Permulaan

Konjungsi waktu yang menjelaskan kapan dimulainya suatu peristiwa yang terdapat dalam induk kalimat. Kata hubung yang sering digunakan adalah sedari, sejak. Contoh penerapannya adalah sebagai berikut:

Andy menyukai catur sejak ia berusia enam tahun.
Ia sudah mulai menunjukkan bakatnya sedari dia masih SD.

ii. Bersamaan

Peristiwa yang terjadi dalam kedua kalimatnya berlangsung dalam waktu yang bersamaan. Kata hubung yang digunakan adalah sambil, ketika, selama, seraya, selagi, tatkala, dan sambil.

Anda dapat memperhatikan penerapannya dalam beberapa kalimat sederhana di bawah ini:

Kinanti menatap langit biru seraya kedua tangannya menggenggam erat tas merahnya.
Lisa sangat terpukul sewaktu ibunya meninggal tahun lalu.
Ayah sedang membaca koran sambil menyantap sarapannya.
Banyak orang yang berlomba – lomba mendapatkan hadiah utama undian tersebut, sementara aku sama sekali tidak tertarik.

iii. Berurutan

Konjungsi waktu yang digunakan untuk menggabungkan dua klausa yang memiliki urutan waktu yang berkesinambungan. Kata hubung yang biasanya digunakan diantaranya; seusai, sesudah, sebelum, begitu, selesai.

Untuk lebih memahaminya, anda dapat memperhatikan contoh beberapa kalimat di bawah ini:
Kita harus berdoa sebelum tidur.
Begitu ayah tiba di rumah, Dinda melompat kegirangan.
Fina memutuskan untuk pindah sekolah setelah ayah dan ibunya berdiskusi sepanjang malam.

iv. Batas Akhir

Kata hubung yang digunakan adalah hingga dan sampai.

Contoh kalimat:

Anda harus tetap belajar dengan giat sampai impianmu tercapai.
Kim terus menangis di kamarnya hingga petang.
Janganlah anda menyerah sampai tujuanmu terlaksana.

b. Konjungsi Subordinatif Syarat

Jenis konjungsi yang menghubungkan induk kalimat dan anak kalimat dimana anak kalimat menjelaskan syarat terlaksananya suatu unsur dalam induk kalimat. Kata hubung yang biasanya digunakan dalam konjungsi bersyarat adalah jikalau, jika, manakala, bilamana, apabila, dan asalkan.

Baca :  Pengertian Entrepreneur, Contoh, Kelebihan, Menurut Para Ahli

Contoh kalimat:

Mulan tidak akan dibenci oleh masyarakat bila ia tidak melakukan hal buruk pada Maia.
Fiona akan menjadi penyanyi terkenal, asalkan ia banyak belajar dan berlatih.
Aku akan datang ke pesta ulang tahun Kiana kalau aku telah menyelesaikan PR ku.

c. Konjungsi Subordinatif Pengandaian

Dalam konjungsi ini, anak kalimat berperan untuk menjelaskan kemungkinan tercapainya atau terlaksananya suatu kejadian atau unsur yang telah dijelaskan dalam induk kalimat. Kata hubung yang biasanya digunakan adalah seandainya, umpamanya, sekiranya, andaikata, andaikan.

Contoh kalimat:

Seandainya Dinda menjadi presiden Indonesia, ia akan menerapkan program pembangunan merata di seluruh wilayah Indonesia.
Andaikata polisi datang lebih awal, perampok itu tentunya akan tertangkap saat menjalankan aksinya.
Seumpamanya ia datang lebih awal, kami tidak akan meninggalkannya.

d. Konjungsi Subordinatif Pembandingan

Anak kalimat menjelaskan pembandingan dan juga kemiripan yang sebelumnya telah dijelaskan dalam induk kalimat.

Contoh kalimat:

Gina hanya diam seolah – olah ia tidak mengetahui apa yang terjadi saat ini.
Daniel terus berlari seakan – akan ada orang jahat yang akan membawanya ke tempat menakutkan.

e. Konjungsi Subordinatif Sebab

Anak kalimat menjelaskan sebab atau alasan yang telah disebutkan dalam induk kalimat.

Contoh kalimat:

Farell mendapatkan nilai jelek karena ia tidak belajar tadi malam.
Harga kebutuhan bahan pokok melonjak tinggi sebab mendekati hari raya Idul Fitri.

f. Konjungsi Subordinatif Akibat

Anak kalimat menjelaskan akibat atau hasil dari unsur yang telah disebutkan dalam induk kalimat.

Contoh kalimat:

Harga bawang merah dan cabai melonjak tinggi, akibatnya banyak pedagang kaki lima yang gulung tikar.
Biaya kuliah yang mahal sampai – sampai membuatnya harus menjual rumah serta tanahnya di kampung.
Masyarakat setempat masih membuang sungai ke sungai sekitar, akibatnya rumah mereka terendam banjir saat musim penghujan.

g. Konjungsi Subordinatif Komplementasi

Anak kalimat berperan sebagai pelengkap unsur yang telah dijelaskan dalam induk kalimat.

Contoh kalimat:
Polisi sangat yakin bahwa ia bukan pelakunya.
Dia telah berjanji pada ibunya bahwa ia tidak akan lupa mengerjakan PR dan belajar sebelum bermain besama Dion dan Jo.
Ibunya sangat yakin bahwa Maria telah berkata jujur pada ayahnya.
Dinanti tahu betul sifat ayahnya itu seperti apa.
Dokter sangat percaya diri ketika memvonis pasiennya.

3. Konjungsi Korelatif

Konjungsi korelatif adalah bentuk konjungsi yang menyatukan dua kata atau klause yang memiliki derajat yang sama. Kedua kalimat atau klause tersebut saling mempengaruhi sama lain. Contoh kata hubung yang biasanya digunakan adalah tidak hanya ….. tapi…, entah …… entah…

Contoh kalimat:

Di dunia ini tidak ada yang abadi, baik harta maupun tahta.
Anda harus menanggung segala resikonya, baik itu buruk ataupun tidak.
Tidak hanya berdoa kepada Sang Pencipta, tapi anda juga harus tetap berusaha keras untuk dapat mewujudkan impian anda.

4. Konjungsi Antar Kalimat

Konjungsi antarkalimat adalah konjungsi atau kata hubung yang menghubungkan satu kalimat dengan kalimat lainnya. Biasanya diawali dengan huruf capital di awal kalimat dan menggunakan kalimat baru untuk menghubungkannya.

Berikut beberapa konjungsi antarkalimat yang biasa digunakan dalam kalimat.

  • Konjungsi antarkalimat ketersediaan dimana menjelaskan kesediaan subyek atau pelaku utama untuk melakukan sesuatu. Contohnya, Dewi selalu bersikap kasar pada temannya. Walaupun demikian, ia tetap disayangi oleh semua temannya.
  • Konjungsi antarkalimat yang menjelaskan lanjutan dari sebuah peristiwa yang telah ada di kalimat sebelumnya. Contohnya, Leo membersihkan kamarnya di pagi hari. Kemudian ia mencuci piring dan membantu ibunya memasak.
  • Konjungsi antarkalimat yang menjelaskan pertentangan dari hal yang telah dijelaskan di kalimat sebelumnya. Contohnya, Awalnya Hilda merasa sangat senang dapat melihat langsung konser Afghan. Namun, suasana konser yang kurang kondusif membuatnya meninggalkan konser lebih awal.
  • Konjungsi antarkalimat menjelaskan unsur atau hal yang tidak terdapat dalam kalimat sebelumnya.
  • Konjungsi antarkalimat yang menerangkan atau menjelaskan situasi yang sebenarnya. Contohnya, Kita harus tetap melakukan upacara bendera setiap hari Senin. Hanya ini langkah kecil yang dapat kita lakukan untuk mengenang jasa para pahlawan.
  • Konjungsi antarkalimat untuk menjelaskan konsekuensi dari kalimat sebelumnya. Contoh kalimatnya adalah sebagai berikut:
    Dunia perfiilman Indonesia telah berkembang pesat saat ini. Dengan demikian banyak film Indonesia yang menghiasi layar kaca maupun box office.
Baca :  Pengertian Argumentasi Dan Ciri-Cirinya

5. Konjungsi Antarparagraf

Konjungsi antarparagraf akan mengawali suatu paragraph yang memiliki korelasi dengan paragraph sebelumnya. Dengan kata lain, konjungsi antarparagraf berperan sebagai penghubung antara suatu paragraf dengan paragraph lainnya.

Konjungsi yang biasanya diletakkan pada awal paragraph diantaranya akan hal, ada pun, mengenai, alkisah dan pada itu.

Berikut contoh konjungsi antarparagraf yang dapat anda amati dan perhatikan.

Paragraf 1:

Meniti karir di ibu kota bukanlah perkara yang mudah. Anda harus memiliki modal yang cukup dan tekad yang kuat untuk memulainya. Pendidikan yang tinggi serta pengalaman yang cukup di tempat kerja sebelumnya merupakan modal yang kuat untuk meniti karir di ibu kota.

Namun, apakah itu saja cukup? Semuanya tidak akan berguna bila Anda tidak memiliki daya juang serta mental yang baik. Anda akan langsung tereliminasi sebelum Anda memulai segalanya.

Oleh karena itu, langkah awal yang perlu Anda lakukan adalah melatih mental Anda. Tujuannya adalah agar Anda tidak mudah menyerah atau frustasi saat dihadapkan pada kegagalan. Anda dapat memulai melatih kekuatan mental Anda dengan tetap maju pantang mundur saat dihadapkan pada situasi sulit.

Selain itu, anda dapat memotivasi diri Anda sendiri saat Anda berada dalam posisi seperti ini. Niscaya anda akan memiliki jenjang karir yang baik bila Anda berhasil menerapkannya.

Paragraf 2:

Masih banyak para koruptor yang hidup enak dan mewah di dalam sel penjara mereka. Mereka bahkan dapat menggunakan ponsel mereka dan tetap menjalankan bisnis mereka dari balik jeruji sel mereka.

Tak sedikit masyarakat yang mempertanyakan hukum Indonesia, khususnya hukum terhadap para koruptor. Bila hal ini tidak diselesaikan secepat mungkin, maka para koruptor tidak akan jera untuk terus melakukannya.

Jadi, dapat kita simpulkan bila kurang tegasnya hukum di Indonesia lah yang membuat para koruptor tidak jera juga dalam melakukan aksinya. Pemerintah harus bersikap lebih tegas dan memperkuat hukum di Indonesia jika ingin benar – benar memberantas korupsi.

Indonesia akan tetap dipenuhi oleh para koruptor bila hukum di Indonesia tetap bersifat tajam atau tegas terhadap kaum miskin namun tumpul atau lunak terhadap penguasa atau pejabat negara.

Demikian pembahasan konjungsi beserta contohnya. Perlu anda ketahui juga bila konjungsi tetap menjadi sesuatu yang penting, baik dalam menulis cerita fiksi maupun non fiksi. Hal ini dikarenakan dunia bahasa tidak dapat terlepas atau dipisahkan dari peran serta konjungsi. Diharapkan artikel dan pembahasannya akan sangat berguna bagi anda dan pembaca lainnya. Sukses selalu.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *